Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Oktober 2021

The Electricity Companies War

Tentang film The Current War: Director's Cut (2017)

The Current War: Director's Cut (2017) adalah film tentang persaingan yang berhubungan dengan arus listrik di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. The Current War itu film yang indah, dipenuhi dengan visual yang mengesankan. Para bintang memainkan perannya dengan cemerlang. Kostum, tata rias, dan interior mewah yang tampak di layar pun memanjakan mata.

Namun, jika berharap menyaksikan kegigihan dua orang penemu dalam upayanya menemukan sistem listrik terbaik, anda akan kecewa. Memang dalam film ini ada dua penemu besar, Edison dan Tesla. Memang film ini membicarakan sistem listrik yang waktu itu bersaing, arus searah (direct current/DC) dan arus bolak-balik (alternating current/AC). Akan tetapi, film ini bukan tentang persaingan Edison dan Tesla dalam menemukan dan mengembangkan sistem listrik terbaik.

Thomas Alva Edison (Benedict Cumberbatch)

The Current War adalah film tentang persaingan antara Thomas Alva Edison (Benedict Cumberbatch) dan George Westinghouse (Michael Shannon) sebagai pengusaha untuk mengaliri listrik di Amerika. Sebagai persaingan bisnis, persoalannya bukan menemukan dan mengembangkan sistem listrik terbaik, melainkan memenangkan tender untuk mengaliri listrik kota-kota di Amerika dengan teknologi yang dimiliki. Persoalannya bukan menjalani proses ilmiah yang penuh trial and error dengan gigih untuk mencapai hasil terbaik, melainkan memamerkan keunggulan teknologi pihak sendiri dan mengekspose kelemahan teknologi pihak lawan melalui konferensi pers dan demonstrasi teknologi.

Edison yang mempromosikan sistem listrik DC, tidak pernah mempertimbangkan sistem listrik AC sebagai sistem listrik yang lebih baik. Ketika Nikola Tesla (Nicholas Hoult) bekerja untuknya, Edison mengabaikan keinginannya untuk membangun pembangkit untuk sistem AC. Edison lebih memilih untuk menyebarluaskan keyakinannya bahwa sistem DC lebih aman, dan karenanya lebih baik, juga betapa berbahayanya sistem AC yang dipromosikan Westinghouse. Keyakinan Edison ini datang dari fakta, sistem AC beroperasi pada tegangan listrik yang jauh lebih tinggi daripada sistem DC. Mulanya, Edison hanya mengutarakan pendapatnya tersebut di depan banyak wartawan. Kemudian, ia mendemonstrasikan betapa berbahayanya sistem saingannya, dengan mengaliri seekor hewan dengan listrik AC sampai mati. Lebih jauh lagi, Edison merekomendasikan listrik AC sebagai alat eksekusi hukuman mati kepada negara bagian New York, untuk mendiskreditkan Westinghouse.

George Westinghouse (Michael Shannon)

Sementara Westinghouse, disamping menghadapi serangan Edison, mesti menghadapi persoalan yang lebih mendasar. Sistem AC sebenarnya lebih unggul daripada DC, karena listriknya dapat ditransmisikan melalui jarak yang lebih jauh. Persoalannya, Westinghouse saat itu belum memiliki pembangkit untuk sistemnya. Persoalan baru dapat diatasi setelah ia membeli paten pembangkit yang dapat beroperasi menggunakan listrik AC, dan mempekerjakan penciptanya yaitu Tesla. Tesla berhasil menciptakan pembangkit untuk sistem listrik AC, dan Westinghouse dapat mengkomersialkannya.

Perang Arus pun berakhir. Westinghouse memenangkan tender penyedia listrik untuk pameran besar Chicago World’s Fair tahun 1893. Ditambah, perusahaannya mendapat kontrak untuk membangun pembangkit listrik tenaga air besar di Air Terjun Niagara. Sedangkan Edison, meski seorang penemu terkenal, dipaksa keluar dari perusahaannya sendiri. Ia pun tidak dapat mengikuti tender Chicago World’s Fair, yang menjadi incarannya.

Nikola Tesla (Nicholas Hoult)

Agaknya Alfonso Gomez-Rejon, sang sutradara, menyadari tema persaingan bisnis dan pembicaraan yang ada di dalamnya itu membosankan untuk sebuah film. Karenanya, ia memasukkan hal-hal tentang penemuan dan kegeniusan. Edison ditampilkan, meski bercela, sebagai penemu genius dengan berbagai keeksentrikannya. Tesla ditampilkan sebagai perwujudan dari kegairahan pada persoalan teoretis murni tentang listrik. Juga, pada bagian akhir film ditunjukkan, ada yang kurang dari kemenangan Westinghouse sang pengusaha, yaitu sensasi yang dialami seorang penemu ketika berhasil menemukan sesuatu. Westinghouse bertanya kepada Edison, “I only wondered what it felt like.” Ia melanjutkan, “The bulb. When you knew. What was the feeling in that moment?

Meski sang sutradara berusaha menarik film ini menjadi film tentang penemuan dan kegeniusan, film ini tetaplah film tentang persaingan bisnis, karena fakta yang menjadi dasarnya pun memang demikian. Apa yang dapat kita terima dari film ini, yang disebut dengan Perang Arus tahun 1880-an hingga 90-an di Amerika itu sebenarnya adalah perang bisnis antara perusahaan listrik. Mungkin seperti persaingan bisnis yang lebih dekat waktunya dengan kita, antara Apple dan Microsoft untuk menguasai pasar personal computer (PC). Daripada The Current War, mungkin lebih tepat tetapi juga lebih tidak menarik, jika film ini diberi judul The Electricity Companies War.

Selasa, 10 Agustus 2021

Impresi Van Gogh

Tentang Film At Eternity’s Gate

Siapa yang tak kenal Vincent van Gogh, pelukis besar Belanda yang karya-karyanya ada di daftar lukisan termahal. Kisah hidupnya menjadi menarik karena kontras dengan penghargaan yang diperoleh setelah kematiannya itu. Hidup singkat, penuh kesulitan, ditambah pula pergulatan dengan gangguan mental. Jangankan sukses dan memiliki banyak penggemar, van Gogh semasa hidupnya disalahpahami oleh masyarakat, dan hanya mampu menjual satu atau dua lukisan. Karena menarik, sudah banyak film yang mengangkat kisah hidup van Gogh.

At Eternity’s Gate (2018) karya Julian Schnabel, sutradara dan salah satu penulis naskah, adalah sebuah film biografi impresionistik. Film ini bukan suatu usaha serius untuk memahami van Gogh atau seninya. Film ini lebih sebagai suatu cara untuk menikmati keindahan yang menawan sang seniman, juga bagaimana rasanya menjadi sang seniman yang diliputi dan terobsesi dengan kebutuhan tak terhindarkan untuk menyampaikan keindahan itu pada dunia. Menyaksikan film ini, kita tenggelam dalam dunia van Gogh, bersama sang seniman mengalami dan melukisnya. Tentang melukis, meski tidak berfokus pada teknik van Gogh, film ini menampilkan caranya melukis. Seperti cara van Gogh menggunakan sapuan tegas untuk memperkuat garis objek saat cat masih basah. Van Gogh melukis dengan cepat, dan ketergesaan ini merupakan bagian integral dari estetika dan pendekatannya. Schnabel sendiri memang seorang pelukis. Sehingga dapat dikatakan, At Eternity’s Gate adalah penghargaan dari seorang pelukis ke pelukis lainnya.

Van Gogh di film ini diperankan oleh Willem Dafoe. Aktor yang seperempat abad lebih tua dari van Gogh pada saat kematiannya. Dafoe berusia 63 tahun pada saat memerankan van Gogh, sedangkan van Gogh meninggal pada usia 37 tahun. Hal ini tidak menjadi pilihan yang ganjil karena, setidaknya berdasarkan lukisan potret dirinya, van Gogh memang tampak lebih tua dari usianya. Van Gogh yang diperankan Dafoe itu tampak sakit-sakitan, kurus, dan pucat. Penampilan seorang pria yang disiksa oleh kehidupan yang serba kekurangan dan kesakitan. Sedangkan matanya lebar, jeli, bersemangat, namun cemas. Karena dengan matanya, van Gogh melihat dunia yang keindahannya mengilhami lukisannya. Tatapannya yang gigih ini juga menunjukkan suatu dorongan untuk terus hidup meskipun kesulitan tak henti-henti menimpanya.

Kelemahan besar film ini adalah, Schnabel memilih untuk menggambarkan kematian van Gogh sebagai penembakan yang tidak disengaja oleh sekelompok anak muda, suatu pendapat alternatif. Pendapat ini, menurut Greg Cwik, ada di buku Van Gogh: The Life (2011) karya Steven Naifeh dan Gregory White Smith. Pendapat umum mengenai hal ini adalah, kematian van Gogh dikarenakan upaya bunuh diri. Bentuk film biografi impresionistik yang dipilih Schnabel tidak tepat untuk mengajukan suatu pendapat alternatif, yang membutuhkan narasi kuat. Dengan bentuk yang dipilihnya itu, lebih bagus jika Schnabel menampilkan peristiwanya secara impresionistik. Van Gogh ditemukan berdarah di ladang, dibawa kembali ke kamarnya, dan meninggal beberapa hari kemudian. Kesan atas peristiwa itu, serahkan saja ke penonton.

Senin, 03 Februari 2020

Lahirnya Tragedi Komedi

Sebuah Tulisan tentang Film Joker (2019)


Spoiler Alert! Tulisan ini menyampaikan poin-poin penting dan akhir dari cerita film Joker.

Film Joker (2019) itu sensasional. Anda bisa suka atau tidak suka dengan film itu. Yang sulit, tidak merasakan apa-apa terhadapnya. Setidaknya ada tiga sensasi terhadap Joker. Pertama, kaget. Diketahui banyak orang, Joker itu musuh Batman, tokoh dari dunia komik, yang biasa dikonsumsi anak-anak. Orang yang menduga akan menyaksikan tokoh badut yang biasanya ada dalam hiburan anak-anak, tentunya akan kaget, karena film garapan Todd Phillips itu ditujukan untuk penonton dewasa, membicarakan tema-tema dewasa, memiliki kompleksitas cerita yang hanya dimengerti - atau tidak - oleh orang dewasa, dan menampilkan adegan-adegan yang hanya cocok disaksikan oleh orang dewasa. Orang-orang yang kaget, setelah menonton filmnya, akan bilang, “Jangan bawa anak-anak ya, filmnya ga cocok buat mereka.”

Kedua, tidak nyaman. Orang umumnya menonton film untuk mendapatkan hiburan. Apalagi jika antisipasinya adalah menonton film tentang tokoh komik. Untuk memenuhi itu, banyak film menampilkan pemandangan, adegan, cerita, pokoknya segala hal yang indah atau dibuat indah. Bahkan perang pun bisa ditampilkan dengan indah. Jangan harap hal itu ada dalam film Joker. Bukan hanya tokoh dan kisahnya yang gelap, tentang orang yang bergumul dengan kondisi mental dan penderitaan hidupnya. Kotanya pun kotor dan jorok. Gotham dalam film Joker adalah kota yang kumuh, sampah berserakan di mana-mana, dan tengah diserang hama tikus raksasa. Menonton film itu, jangankan terhibur, nyaman pun tidak.

Ketiga, takut akan dampaknya. Kelanjutan dari sensasi pertama dan kedua, sensasi ini muncul setelah selesai menonton filmnya. Takut film gelap bertema dewasa itu mempunyai dampak atas dunia nyata. Mungkin yang paling umum adalah, takut ada orang di dunia nyata yang meniru apa yang dilakukan Joker dalam film, terutama membunuh. Selain itu, ada pula yang takut, orang di dunia nyata ‘ketularan’ kondisi yang dimiliki tokoh yang dimainkan Joaquin Phoenix itu dalam film, ikut-ikutan merasa mempunyai kondisi mental, dan melakukan hal-hal aneh.

Karena kesensasionalannya itu, banyak orang membicarakan film Joker. Mulai analisis serius dari berbagai sudut pandang - sosiologis, psikologis, bahkan moralis - sampai meme viral, “Orang jahat lahir dari orang baik yang ...”

Untuk saya, film itu adalah perjalanan matinya Arthur Fleck, serta lahirnya Joker. Apa yang dilakukan sang protagonis sepanjang film itu adalah segala upaya untuk melepaskan dirinya dari jerat-jerat “sistem” (Joker). Namun, upaya demi upaya yang dilakukan sang protagonis itu mematikan satu bagian dirinya, sekaligus memunculkan bagian yang lain.

Film Joker berlatar Gotham - kota tempat Batman dan musuh-musuhnya beraksi - di tahun 1981. Pada masa itu, warga Gotham bergulat dengan pengangguran, kemiskinan, dan kejahatan. Kotanya sendiri dililit oleh masalah keuangan. Dinas kebersihan tidak dibayar, membuat sampah tidak diangkut dan menumpuk. Jaminan kesehatan dipotong, membuat sebagian warga tidak mendapatkan akses pada pelayanan kesehatan.


Arthur Fleck hidup di dalam kota dan masyarakat dengan “sistem” yang bobrok seperti itu. Sebobrok-bobroknya suatu sistem, kalau masih bekerja, akan memberi upah jika kita hidup sesuai dengannya, dan akan memberi hukuman jika kita hidup berlawanan dengannya. Namun untuk Arthur, seorang badut, berpendapatan pas-pasan, dengan kondisi mental tidak dapat mengontrol tawanya, dan mengandalkan BPJS versi Gotham untuk menanggulangi kondisinya itu, “sistem” selalu menilainya salah. Salah waktu, salah tempat, salah kostum, salah karena miskin, salah karena aneh, dan salah-salah lainnya. Karena salah, “sistem” pun menghukumnya.

Untuk Arthur, satu-satunya yang bekerja dalam “sistem” itu adalah hubungan dengan ibunya. Arthur mengurus dan merawat ibunya, sebagaimana ibunya mencintai dan mengasihi Arthur sejak kecil. Setidaknya Arthur pikir demikian.

Sebagai bagian ‘kelas bawah’ dalam “sistem”, Arthur harus menerima berbagai perlakuan yang kebanyakan buruk dari orang-orang yang memang atau merasa di atasnya. Salah satunya, remaja-remaja yang mengganggunya saat bekerja. Tidak selesai sampai di situ, ia bahkan harus mengganti kerusakan yang dibuat remaja-remaja itu.

Puncaknya, setelah dipecat dari tempat kerjanya, dan tidak lagi mendapatkan penanganan dan obat untuk kondisi mentalnya, Arthur di-bully dan dikeroyok oleh tiga orang eksekutif perusahaan Wayne - milik Thomas Wayne yang anaknya kelak menjadi Batman - di kereta bawah tanah.


Tidak tahan lagi dengan perlakuan “sistem” dan orang-orang atasnya, Arthur pun membunuh tiga eksekutif itu. Setelah syok atas apa yang telah dilakukannya, ia lantas dengan ringannya menari, seperti terbebas dari jeratan yang menyesakkan. Persisnya, ia terbebas dari jerat sistem kelas dalam masyarakat, yang punya aturan tak tertulis, “Yang atas boleh sewenang-wenang pada yang bawah.”

Ke depannya, Joker akan melawan bahkan membunuh orang-orang yang menghinanya, menertawakannya, mem-bully-nya, pokoknya sewenang-wenang terhadapnya. Bukan untuk balas dendam, tetapi untuk “... membuat orang-orang tertawa”. Kalau orang-orang tidak tertawa, menurut Joker, itu karena mereka tidak mengerti apa yang dilakukannya sebagai komedi yang lucu.

Dengan melawan hingga membunuh tiga eksekutif perusahaan Wayne itu, dimulailah proses kematian Arthur dan kelahiran Joker.

Proses itu berpuncak setelah Arthur membunuh ibunya. Hubungan dengan ibunya, tadinya ia pikir, adalah satu-satunya yang bekerja dalam “sistem”. Hubungan kasih sayang orang tua dan anak, di mana ia mengurus dan merawat ibunya, sebagaimana ibunya mencintai dan mengasihinya sejak kecil. Namun, Arthur kemudian mengetahui, ibunya kemungkinan berbohong, tentang siapa sebenarnya ayahnya, siapa sebenarnya ibunya, dan karenanya siapa sebenarnya dirinya. Lebih parah lagi, ia pun kemudian mengetahui, ibunya membiarkan pacarnya saat itu menyiksa Arthur kecil hingga mengalami trauma parah di kepalanya.

Mengetahui satu-satunya hubungan yang - tadinya ia pikir - bekerja dengan baik itu adalah kebohongan, membuat eksistensi Arthur Fleck sekarat, melemah menuju kematian. Semakin lemah Arthur Fleck, semakin kuat Joker muncul ke permukaan. Dengan pengetahuan itu, Arthur menghampiri ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. Namun agaknya, yang datang ke rumah sakit bukanlah Arthur, melainkan Joker. Sebab, ia berkata demikian kepada ibunya, “Remember you used to tell me that my laugh was a condition, that there was something wrong with me? It isn’t. That’s the real me.” (Ingatkah ibu selalu bilang tawaku itu suatu penyakit, bahwa ada yang salah denganku? Bukan. Itu aku yang sebenarnya.) (Joker). Kemudian, ia membekap ibunya dengan bantal sampai mati.

Setelah membunuh ibunya, Arthur Fleck mati, dan Joker lahir. Dengan membunuh ibunya, Arthur Fleck telah memutuskan ikatan utama dari jaring “sistem”. Jaring yang menjeratnya dari segala arah, dari “sistem” yang menilainya selalu salah. Meski tidak selalu adil, sebenarnya “sistem” itu adalah ‘kenormalan’, yang membentuk dan menopang manusia agar menjadi dan tetap normal. Setiap perbuatan yang sesuai dengan ‘kenormalan’ akan memperkuat ikatan jaring “sistem” itu, sedangkan setiap perbuatan yang bertentangan dengan ‘kenormalan’ akan memutus satu ikatan jaring itu. ‘Ibu’ sendiri mempunyai banyak peran penting dalam ‘kenormalan’, yang melahirkan, yang mengurus, yang menyayangi, dan sebagainya. Sehingga ‘ibu’ menjadi titik dari salah satu ikatan utama jaring ‘kenormalan’. Melakukan hal yang sesuai ‘kenormalan’ kepada ‘ibu’, akan memperkuat ikatan jaring ‘kenormalan’, dan diberi upah oleh “sistem”, misalnya dipuji sebagai ‘anak yang berbakti’. Melakukan hal yang bertentangan dengan ‘kenormalan’ kepada ‘ibu’, akan memutuskan ikatan utama jaring ‘kenormalan’, bahkan hingga ‘kenormalan’ tidak dapat lagi menopang orang itu. Jika seseorang sudah tidak ditopang ‘kenormalan’, orang itu dapat dinilai ‘tidak normal’, ‘tidak waras’, ‘gila’, atau penilaian-penilaian seperti itu. Hal ini misalnya tertuang dalam reaksi banyak orang ketika mendengar berita seorang anak membunuh ibunya, “Udah gila kali tuh orang.” Jadi dengan membunuh ibunya, sistem yang sejak awal sudah tidak bekerja dengan baik untuk Arthur, dan semakin banyak ikatannya yang putus seiring perbuatan-perbuatan salah yang dilakukan Arthur, itu jebol dan tidak bisa lagi menopang ‘kenormalan’. Arthur Fleck yang meski pecundang, tidak lucu, aneh, miskin, tetapi masih dan berusaha untuk tetap normal itu pun mati.

Sedangkan untuk Joker, membunuh ibunya adalah puncak proses kelahirannya ke dunia. Gangguan-gangguan yang dialami Arthur Fleck itu menyebabkan ‘kontraksi’ mental untuknya. Karena gangguan dalam hidupnya itu semakin sering dan semakin besar, ‘kontraksi’ yang dialami Arthur pun semakin sering dan semakin kuat, seperti dalam proses melahirkan. Momen di saat Arthur mengetahui bahwa hubungan dia dan ibunya adalah kebohongan, seperti pecahnya air ketuban, hilangnya lapisan yang melindungi hubungan ibu dan anak disebabkan suatu dorongan, dan menandakan ada yang siap dilahirkan. Ketika ia membekap ibunya sampai mati, Joker mendorong dirinya keluar dan memutuskan hubungan dengan ibunya, seperti lahirnya seorang bayi yang diikuti pemotongan tali pusat. Joker pun telah lahir.

Joker yang baru lahir ini bukanlah Arthur Fleck, manusia yang terikat dengan norma-norma dan hanya menerima apa yang dunia lemparkan kepadanya. Joker adalah makhluk tanpa ikatan, seperti yang dikatakannya, “I’ve got nothing left to lose. Nothing can hurt me anymore.” (Saya tidak punya apa-apa. Tidak ada yang dapat menyakitiku lagi.) (Joker). Dengan kebebasannya, ia ingin menciptakan dunia yang menjadikannya pusat, dunia yang orang-orangnya tertawa dan bersukaria dengan apa yang dilakukannya. Bukan menertawakan dirinya, tetapi menertawakan apa yang dilakukan Joker karena memahaminya sebagai komedi yang lucu.


Kini saatnya Joker mewartakan kedatangannya pada dunia. Tahun 80-an, kalau ingin terkenal, ya masuk TV, kan belum ada internet, media sosial, Youtube, dan sebagainya. Sebelumnya, Arthur mendapat undangan untuk tampil di talk show Murray Franklin, karena acara itu memperoleh video pementasannya yang gagal. Arthur yang ingin menjadi pelawak berkesempatan untuk melakukan stand up comedy. Namun di atas pentas, Arthur gagal menyelesaikan pertunjukannya karena kumat, ia terus-menerus tertawa secara tak terkendali. Ternyata kejadian itu ada yang merekam, dan dikirim untuk diputar di acara talk show TV. Orang-orang tertawa dibuatnya, tetapi bukan menertawakan lawakan Arthur, melainkan menertawakan kegagalannya. Arthur pun diundang ke acara itu untuk ditampilkan sebagai pelawak gagal yang cuma bisa tertawa-tawa.

Untuk tampil di acara itu, ia mengecat rambutnya dengan warna hijau, merias mukanya dengan riasan badut, dan mengenakan setelan jas berwarna cerah. Hal ini membuatnya tampil sebagai Joker.

Di acara itu Joker, tidak menerima saja seperti Arthur Fleck, menggugat sistem dan masyarakat, “All of you, the system that knows so much, you decide what’s right or wrong. The same way that you decide what’s funny or not.” (Kalian semua, sistem yang tahu segalanya, kalian memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. Sebagaimana kalian memutuskan apa yang lucu dan apa yang tidak lucu.) (Joker). Selanjutnya Joker mengakui, ia lah yang membunuh tiga eksekutif perusahaan Wayne. Ketika seluruh penonton di studio menghakimi dan mencelanya, ia menggugat kembali, “Oh, why is everybody so upset about these guys? If it was me dying on the sidewalk, you’d walk right over me. I pass you everyday and you don’t notice me!” (Kenapa semua orang begitu marah tentang pembunuhan orang-orang itu? Jika saya yang sekarat di pinggir jalan, kalian akan lewat begitu saja. Saya bertemu kalian setiap hari dan kalian tidak kenal saya!) (Joker). Joker pun menutup penampilannya di TV dengan aksi yang spektakuler, menembak pembawa acara talk show itu Murray Franklin, di depan semua penonton di studio dan pemirsa di rumah.

Dunia yang diinginkan Joker tampaknya mulai terbentuk. Pembunuhan yang dilakukan Arthur terhadap tiga eksekutif Wayne menyebar lewat berita sebagai ‘pembunuhan kelas atas oleh orang berias badut’. Gotham yang dilanda kesenjangan sosial, membuat penerimaan atas peristiwa itu terbagi, ada yang mengutuknya sebagai pembunuhan keji, tetapi banyak pula yang menerimanya sebagai perlawanan terhadap kelas atas, dan menjadikan badut sebagai simbol perjuangan kelas. Pada saat Joker tampil di TV, orang-orang yang terinspirasi si badut melakukan demonstrasi di jalan, untuk melawan sistem yang tidak adil, dengan menggunakan topeng badut. Demo kemudian tersulut menjadi huru-hara. Penampilan Joker di TV membuat para demonstran tahu siapa inspirator mereka. Ketika Joker sudah keluar dari studio TV dan berada di tengah huru-hara itu, ia menyaksikan Gotham yang kacau, yang berarti “sistem” telah rusak. Ia pun melihat para demonstran menyorakinya bak seorang pahlawan, mungkin untuk pertama kali orang-orang menerimanya seperti itu. Untuk Joker, ini bukan huru-hara, ini adalah hura-hura. Ia dengan sukaria menikmati kerusakan “sistem” dan pujaan orang banyak.


Kalau mau belajar dari film Joker, ketika kita bertanya seperti, “Sampai mana skripsinya?”, “Sudah kawin?”, “Sekarang kerja di mana?”, atau ketika kita menilai orang lain dengan, “Dasar bodoh”, “Ga lucu”, “Pecundang”, pokoknya menanyakan atau menilai orang dengan hal-hal normal yang biasanya orang lakukan, itu artinya kita menjadi agen ‘kenormalan’, orang yang menerapkan atau memeriksa apakah hidup seseorang sesuai dengan ‘kenormalan’ atau tidak. Ingat, seperti dalam film, ‘kenormalan’ menghukum orang yang hidup tidak sesuai dengannya, tetapi “sistem” itu belum tentu adil. Ketika kita menanyai atau menilai orang lain, jangan-jangan dalam diri orang itu ada Joker yang menanti untuk lepas. Tidak usah takut, dalam dunia yang keras dan dingin, dengan “sistem” yang tidak adil, setiap orang adalah Arthur Fleck yang menanti untuk diajak bicara dan dipahami. Mungkin juga, diajak nonton film Joker.

Film
Joker. Sutradara Todd Phillips. Warner Bros. Pictures, 2019. Film.

Senin, 11 Februari 2019

Selamat Datang di OASIS

Sebuah Tulisan tentang Film Ready Player One (2018)


Spoiler Alert! Tulisan ini menyampaikan poin-poin penting dan akhir dari cerita film Ready Player One.

Sinopsis
Sebagian dari kita mungkin sudah pernah memainkan video games bergenre MMORPG (Massively Multiplayer Online Role-Playing Game), permainan yang dimainkan secara online oleh banyak orang di mana pemain berperan sebagai karakter tertentu dan berinteraksi dengan karakter pemain lain di dalam suatu dunia virtual. Itulah yang disampaikan oleh film Ready Player One (2018) garapan Steven Spielberg, petualangan sang tokoh utama di dalam sebuah permainan atau dunia virtual.

Wade Watts - dengan avatar Parzival di dalam game - adalah anak yatim piatu, ikut dengan tante dan pacar tantenya yang kasar, dan hidup dalam kemiskinan. Untuk lari dari kehidupannya yang keras, ia bermain OASIS, sebuah game MMORPG yang dimainkan dengan perangkat VR (Virtual Reality). Di dalam OASIS, seorang pemain dapat menjadi karakter apa pun yang ia inginkan dan melakukan hal apa pun yang ia kehendaki, termasuk hal-hal yang sulit bahkan mustahil dilakukan di dunia nyata.

Bukan hanya Watts yang hidupnya keras, dikisahkan kehidupan di tahun 2045 memang keras untuk banyak orang, akibat kesenjangan sosial yang semakin lebar. Hal itu menjadikan OASIS game yang laris, karena banyak orang memainkannya sebagai pelarian dari kerasnya kehidupan.

Seperti umumnya game MMORPG, OASIS memberikan misi-misi yang dapat dimainkan oleh pemainnya. Sebelum meninggal, James Halliday - sang pencipta OASIS - sempat memberikan tantangan pemungkas untuk para pemain. Tantangan itu terdiri dari tiga misi, yang jika berhasil diselesaikan akan menyingkap sebuah Easter Egg - sesuatu yang disembunyikan oleh pemrogram di dalam programnya dan dapat dicari oleh pengguna seperti tradisi mencari telur di Hari Paskah - yang memberikan pemiliknya kuasa penuh atas OASIS.

Lebih menarik lagi, hadiah di dunia virtual tersebut ditambah juga dengan mewarisi saham Halliday di Gregarious Games - perusahaan pengembang games miliknya - senilai setengah triliun dolar di dunia nyata. Iming-iming hadiah besar di dunia virtual dan di dunia nyata membuat banyak pemain mencari Easter Egg itu.

Selain Watts, salah satu orang yang mencari Easter Egg itu adalah Nolan Sorrento, CEO dari sebuah perusahaan IT (Information Technology) bernama IOI. Sorrento mencari, atau tepatnya memburu dengan segenap kekuasaannya, Easter Egg itu dengan tujuan menguasai saham Halliday di Gregarious Games dan memiliki kontrol penuh atas OASIS.

Jika sudah memiliki kontrol atas OASIS, Sorrento berencana untuk mengeksploitasi game itu. Salah satu caranya adalah dengan mengubah sistem perolehan achievement berdasarkan skill pemain, menjadi sistem pay to win, di mana pemain harus membayar sejumlah uang (nyata) untuk mendapatkan sesuatu di dalam game. Cara lainnya adalah dengan memasang iklan di dalam game tersebut - Halliday sendiri tidak memasang iklan di dalam game-nya - dan iklan itu hanya akan dihilangkan dari pandangan jika seorang pemain membayar sejumlah uang ke IOI.

Setelah menyelesaikan tiga misi yang diberikan Halliday, juga menghadapi Sorrento beserta antek-anteknya di dunia virtual dan di dunia nyata, Watts bersama klannya - kelompok pemain yang menyelesaikan misi-misi di dalam game secara bersama - berhasil mendapatkan Easter Egg. Artinya Watts, bersama klannya yang ia bagi rata hadiahnya, berkuasa penuh atas dunia virtual OASIS, juga mewarisi saham Halliday di Gregarious Games.

Tampaknya petualangan Watts menyelesaikan tantangan pemungkas dari Halliday menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persahabatan dan cinta sejati di dunia nyata di atas segala pencapaian di dunia virtual. Dikisahkan Watts dalam petualangannya dibantu dengan penuh pengorbanan oleh teman-temannya, juga bertemu dengan cinta sejatinya. Kesadaran itu membuat Watts - sebagai penguasa OASIS - membuat kebijakan di antaranya meng-offline-kan OASIS selama dua hari dalam seminggu, agar orang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia nyata.

Perumahan kumuh tempat tinggal Watts

Bug dalam OASIS
Untuk saya, Ready Player One adalah kisah petualangan yang sudah disampaikan berkali-kali. Kisah petualangan seorang jagoan untuk mencapai hadiah tertinggi. Harus melewati berbagai tantangan dan ujian. Berhasil mendapatkan yang ditujunya. Namun pada akhirnya menyadari bahwa hadiah sesungguhnya bukan yang selama ini menjadi tujuannya, melainkan yang selama ini senantiasa menyertainya. Dalam film ini, cinta dan persahabatan sejati. Singkatnya, Ready Player One adalah suatu nasihat konservatif gabungan live action dan CGI (Computer Generated Imagery) berdurasi dua jam lebih, “Jangan main game melulu, main keluar sama teman, cari pacar”.

Terkait dengan pesan utama film tersebut, ada masalah di dalamnya, suatu kontradiksi. Pesan utama film itu adalah, dunia nyata betapa pun kerasnya jauh lebih penting daripada dunia virtual dengan segala kenikmatan dan keseruannya. Alasannya, hanya di dunia nyatalah hal-hal yang sejati itu ada, terutama cinta dan persahabatan. Namun film itu mengisahkan, orang yang nantinya merupakan cinta sejati Watts di dunia nyata, mulanya adalah saingannya dalam mencari Easter Egg di dunia virtual. Demikian pula dengan para sahabat seperjuangan Watts di dunia nyata, mulanya adalah teman satu klan - yang mulanya tidak diakuinya dengan selalu mengatakan, “I don’t clan” - di dunia virtual.

Di sini, kita dapat menggugat, bukankah jika Watts tidak mencari pelarian di dunia virtual, dia tidak akan bertemu dengan orang-orang penting dalam hidupnya. Lebih lanjut, bukankah jika Watts tidak memainkan MMORPG itu, ia hanya memiliki tante dan pacar tantenya yang galak itu di dunia nyata. Mengikuti yang dikisahkan Ready Player One, dunia virtual itu lebih penting daripada dunia nyata. Karena, dunia virtual - sesuai iming-imingnya - dapat memberikan apa-apa yang tidak dapat diberikan oleh dunia nyata, termasuk cinta dan persahabatan sejati. Nasihat yang sesuai dengan kisah yang disampaikan semestinya adalah, “Lepaskanlah beban hidupmu, pergilah, carilah tempat di mana kamu merasa kerasan di dalamnya, meski itu dunia virtual sekalipun”.

Masalah lain dari pesan utama film itu terkait soal ‘pelarian’. Jika soal ‘pelarian’-nya kita eksplisitkan, pesan utama film itu adalah, kita sebaiknya menghadapi segala persoalan di dunia nyata, daripada mencari pelarian ke dunia virtual, karena bagaimanapun di dunia nyatalah adanya hal-hal yang paling berharga untuk kita.

Film itu mengisahkan, Watts mencari pelarian ke dunia virtual OASIS dari kerasnya dunia nyata yang ia hadapi, di antaranya persoalan ekonomi. Bukan hanya Watts, banyak orang mencari pelarian ke OASIS dengan alasan himpitan ekonomi di dunia nyata. Sampai akhirnya, setelah menyelesaikan petualangannya di dunia virtual dan di dunia nyata, Watts memperoleh sebuah kesadaran bahwa dunia nyata dengan segala persoalan di dalamnya tetap jauh lebih penting daripada dunia virtual dengan segala kesenangannya. Dari kesadaran tersebut, dengan penguasaan saham Halliday dan kontrol penuh atas OASIS, Watts mengeluarkan kebijakan untuk membuat dunia virtual itu offline selama dua hari dalam seminggu. Tujuan kebijakan itu adalah, agar orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia nyata.

Di sini, kita bisa menggugat, bukankah memang mudah untuk seseorang yang sebagian persoalan utamanya di dunia nyata sudah diatasi untuk tidak mencari pelarian ke dunia virtual, bahkan mungkin ia tidak perlu mencari pelarian lagi. Watts yang mengeluarkan kebijakan itu adalah Watts yang sudah memiliki kekayaan seperlima dari setengah triliun dolar dan bersama dengan cinta sejatinya. Kaya sudah, jodoh dapat, persoalan apalagi yang membuat seorang Watts perlu lari dari dunia nyata. Mungkin tinggal persoalan, apakah kelak ia masuk surga atau tidak. Yang kemungkinannya ia juga masuk, sebagai pihak baik dari film itu.

Meski memiliki kelemahan fatal, yakni gagal menyampaikan dengan baik nasihat konservatifnya sendiri. Menurut saya, ada poin-poin menarik yang membuat film itu masih (sangat) layak untuk ditonton.

Gundam. Salah satu Easter Egg dalam Ready Player One

Easter Egg!
Poin menarik pertama, Ready Player One adalah film tentang pencarian Easter Egg yang memberikan banyak Easter Egg untuk dicari oleh penontonnya. Easter Egg itu berupa ikon-ikon budaya pop. Hampir sepanjang film itu, kita sebagai penontonnya akan disibukkan dengan, “Eh, itu kan si A dari film X”, “Itu kan si B dari game Y”, “Itu bukannya si C”.

Meski sebenarnya Spielberg bisa lebih menyembunyikan lagi telur-telur paskahnya. Karena, jika terlalu banyak dan terlalu tampak, namanya bukan pencarian telur paskah lagi, melainkan bagian daging dan telur di supermarket.

Apakah Spielberg, seperti Halliday, menaruh Easter Egg pemungkas dalam filmnya? Saya sendiri belum menemukannya.

© Gage Skidmore. Steven Spielberg berbicara tentang Ready Player One di San Diego Comic Con International 2017

Spielberg, Sang Maestro
Poin menarik kedua, Steven Spielberg adalah seorang maestro film petualangan, dan kemaestroannya dapat kita nikmati di film Ready Player One. Raiders of the Lost Ark (Indiana Jones I), E.T. the Extra-Terrestrial, dan Jurassic Park, adalah beberapa film petualangan Spielberg yang sudah menjadi klasik.

Saya sendiri berpendapat film-film Spielberg, khususnya yang bergenre petualangan, memiliki alur seperti permainan, roller coaster atau video game misalnya. Film dimulai secara datar dengan kecepatan biasa, biasanya diisi dengan pengenalan tokoh-tokoh dan misi yang akan dijalankan oleh tokoh utama. Alur film kemudian mulai naik ke tanjakan pertama, biasanya diisi oleh misi pendahuluan untuk mencari petunjuk atau hal lain yang dibutuhkan dalam misi utama. Dipuncaki - tidak terlalu tinggi - oleh keberhasilan sang tokoh mendapatkan apa yang ia cari.

Alur kemudian melandai, biasanya diisi oleh pengenalan tokoh-tokoh tambahan yang nantinya - secara sengaja maupun tidak sengaja - ikut dalam petualangan utama. Selanjutnya menaik lagi, kali ini untuk mencapai puncak film, di sini biasanya film sudah masuk ke petualangan utamanya, di mana beragam musuh dan rintangan mengadang perjalanan sang jagoan dengan semakin berat. Sampai pada klimaks, di mana sang jagoan berhadapan dengan musuh terkuat atau rintangan terberat, dan berhasil mengatasinya.

Akhirnya, masuk ke bagian penyelesaian, alur melandai sampai kembali datar. Bagian penyelesaian ini biasanya oleh Spielberg diisi oleh hal-hal yang menyenangkan, umumnya sang jagoan mendapatkan imbalan besar atas segala jerih payahnya menyelesaikan petualangan. Juga, diisi oleh nasihat yang ingin disampaikan Spielberg melalui filmnya itu, seperti ada hal yang lebih berharga daripada hadiah yang diperoleh sang jagoan dari petualangannya itu, pengorbanan, persahabatan, dan cinta misalnya.

Untuk saya, alur yang digunakan Spielberg itu awalnya membuat film-film petualangannya menjadi seru dan karenanya enak untuk dinikmati, tetapi lama-kelamaan alur seperti itu membuat filmnya mudah diprediksi dan karenanya membosankan.

Namun demikian, untuk film petualangan yang bertema video game, alur seperti itu pas, karena membuat film tentang video game memberikan sensasi seperti yang diberikan video game.

Dalam Ready Player One, kisah dimulai dengan pengenalan tokoh-tokoh yang nantinya bertualang bersama, sang tokoh utama, teman-teman satu klannya, dan anggota baru klan itu yang nantinya punya peran penting. Kemudian petualangan pendahuluan dimulai, dengan mencari petunjuk dan mendapatkan benda yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tantangan Halliday.

Selanjutnya, film pun memasuki petualangan utamanya, misi untuk mendapatkan Easter Egg, di mana pelbagai halangan dari Sorrento dan tantangan dari Halliday diatasi oleh Watts dan klannya satu per satu. Petualangan utama ini memuncak di pertempuran akbar antara seluruh warganet OASIS di bawah komando Watts dengan Sorrento dan antek-anteknya.

Film ditutup dengan kemenangan sang jagoan dan keberhasilannya memperoleh hadiah tertinggi. Juga, sebuah nasihat bahwa ada yang lebih berharga daripada hadiah tertinggi itu, yakni cinta dan persahabatan sejati yang hanya ada di dunia nyata.

Kembali ke pertempuran akbar tersebut. apa-apa yang semakin meningkat sejak awal film, benar-benar berpuncak di pertempuran itu. Puncak dari keseruan dan kespektakuleran petualangan Watts dan kawan-kawan, juga puncak dari kemunculan Easter Egg-Easter Egg yang ditaruh oleh Spielberg. Sensasi menyaksikan Watts memenangi pertempuran akbar dan menyelesaikan misi terakhir dalam Ready Player One, menurut saya, setara dengan sensasi mengalahkan bos terakhir dan menamatkan sebuah game.


Selamat Tinggal Matrix, Selamat Datang OASIS
Poin menarik ketiga, Ready Player One menyajikan sebuah alasan yang masuk akal untuk manusia masuk dan betah di dalam dunia virtual. Menyaksikan bagian-bagian awal, khususnya bagian di mana Watts menggunakan VR set-nya dan untuk pertama kali masuk ke dalam OASIS, muncul di benak saya “Matrix”. Film tentang petualangan di dunia virtual, untuk saya, memang minta dibandingkan dengan rangkaian film The Matrix (1999 - 2003) dari Wachowski Bersaudara.

Menurut epos The Matrix - persisnya di dalam film animasi The Animatrix - manusia berada di dalam dunia virtual yang disebut “Matrix” sebagai hasil perang habis-habisan melawan robot ber-AI (Artificial intelligence). Dalam perang tersebut, umat manusia kalah dari kaum robot ber-AI ciptaannya sendiri. Sebagai konsekuensi dari kekalahannya, manusia harus menyerahkan tubuhnya ke kaum robot untuk digunakan sebagai sumber energi - semacam baterai. Sementara sebagai suatu pengampunan, kaum robot memasukkan pikiran manusia - yang tubuhnya dalam keadaan terbius digunakan sebagai baterai - ke dalam sebuah dunia virtual yang disebut “Matrix”.

Alasan yang disajikan The Matrix itu seperti khayalan yang jauh dengan kita. Imajinasi yang berkembang dari mitos ketakutan akan AI, ciptaan yang akan mengalahkan penciptanya. Nyatanya hingga saat ini, bidang AI meski berkembang pesat, masih jauh dari menghasilkan mesin yang dapat berpikir otonom. Apalagi sampai pada pemikiran, demi kelangsungan kaumnya, manusia - sang pencipta - harus diperangi.

Sedangkan menurut film Ready Player One - seperti sudah dipaparkan sebelumnya - banyak manusia masuk dan betah di dalam OASIS sebagai pelarian dari kerasnya dunia nyata, yang diakibatkan kesenjangan sosial yang ekstrem.

Alasan yang disajikan Ready Player One itu lebih masuk akal. Karena, lebih dekat dengan keadaan yang kita hadapi saat ini. Kesenjangan sosial, kemelekatan dengan teknologi, juga dunia virtual sebagai pelarian.

Manusia masuk ke dalam suatu dunia virtual sebagai pelarian dari pelbagai masalah di dunia nyata adalah kenyataan hari ini. Tidak susah untuk menemukan orang yang bermain game, menggunakan media sosial, atau belanja online secara obsesif, hingga menomorduakan bahkan melupakan hal-hal di dunia nyata. Naikkan saja kadarnya beberapa tingkat, maka kita sudah berada di dunia yang digambarkan film Ready Player One.

Tidak adil membandingkan film keluaran 1999 dengan film keluaran 2018, tetapi alasan yang diberikan Ready Player One memang lebih realistis daripada alasan yang diberikan The Matrix.

Kesimpulannya, Ready Player One adalah sebuah film petualangan dengan inti cerita yang sudah sering dikisahkan, dan disampaikan dengan cara yang sudah sering digunakan. Namun demikian, Ready Player One masih (sangat) layak untuk ditonton. Untuk pencarian Easter Egg berupa ikon budaya pop sepanjang film. Untuk pengalaman menonton film seseru menamatkan game. Juga untuk, menurut saya paling berharga, masukannya tentang hubungan antara keadaan di dunia nyata dengan keberadaan kita di dunia virtual.

Para manusia abad ke-21, selamat datang di dunia virtual.