Senin, 16 Mei 2022

Tentang Squid Game

Squid Game (2021) adalah sebuah fenomena global. Seri asal Korea Selatan ini, bersama Lupin (2021) dan Money Heist (2017), menjadi salah satu seri berbahasa non-Inggris yang sukses di Netflix. Setelah tayang perdana pada bulan September, Squid Game dengan cepat menjadi acara terpopuler Netflix, dan bertahan selama berminggu-minggu. Seri ini memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia, dan menimbulkan kehebohan online. Ceritanya dibicarakan oleh banyak orang, potongan gambarnya dijadikan meme, permainan yang ada di dalamnya pun dimainkan atau ditiru.

Squid Game menurut sutradara dan penulisnya, Hwang Dong-hyuk, adalah sebuah, “... alegori atau fabel tentang masyarakat kapitalis modern”. Seri ini menceritakan sekelompok orang susah yang bertanding dalam serangkaian permainan anak-anak yang mematikan untuk memenangkan hadiah uang dalam jumlah sangat besar yang dapat mengubah hidup.

Tokoh utama Squid Game adalah Seong Gi-hun (Lee Jung-jae). Gi-hun memiliki banyak hutang, gagal dalam pernikahan, ayah yang tidak bertanggung jawab, dan menjadi beban untuk ibunya yang tua dan sakit. Di usia hampir 50 tahun, ia adalah bocah tua nakal, yang percaya nasibnya akan berubah melalui judi.

Pada suatu hari, Gi-hun didekati oleh seorang pria berpakaian necis di peron kereta bawah tanah, dan mengajaknya melakukan suatu permainan dengan taruhan. Jika menang, ia akan diberi uang. Jika kalah, ia akan ditampar. Setelah bermain, pria berpakaian necis itu memberinya kartu undangan untuk mengikuti permainan yang lebih besar.

Sepakat mengikuti permainan, Gi-hun dibawa ke lokasi terpencil yang tidak diketahui, sebuah asrama yang sangat besar. Di sana, ia bersama dengan 455 orang susah lainnya, yang juga sepakat untuk mengikuti permainan. Sebuah kompetisi yang terdiri dari enam permainan anak-anak. Permainan pemungkasnya adalah Squid Game, galasin ala Korea yang dimainkan di atas lapangan berbentuk cumi-cumi. Taruhan permainan ini sangat besar. Yang menang, pulang dengan uang yang sangat banyak. Yang kalah, mati.

Cerita Squid Game disusun di atas struktur yang sudah umum digunakan. Dari episode pertama, kita dapat menebak banyak hal yang terjadi di delapan episode berikutnya. Yang menang, protagonisnya. Tokoh-tokoh yang dekat dengan protagonis, selamat sampai babak-babak lanjut. Bahkan, seberapa jauh selamatnya pun sesuai dengan kedekatan si tokoh dengan protagonis.

Ceritanya pun gamblang, jelas dan mudah dimengerti. Kenapa permainan itu diadakan, kenapa seorang tokoh mau mengikuti permainan itu, dan sebagainya, diceritakan dengan jelas dan mudah dimengerti. Bahkan jika ada sesuatu yang perlu dijelaskan, seperti aturan permainan, akan ada tokoh yang menjelaskannya agar kita mengerti.

Penokohan Squid Game juga sederhana. Protagonis, dibalik banyak kelemahannya, adalah manusia yang murni baik, meyakini nilai ‘kemanusiaan di atas segalanya’. Antagonis, dalam hal ini Cho Sang-woo (Park Hae-soo), meyakini nilai yang berkebalikan 180 derajat dari protagonis ‘materi di atas segalanya’ bahkan kemanusiaan. Tokoh-tokoh lainnya berada di antara protagonis dan antagonis, dari yang mementingkan kemanusiaan daripada keuntungan materi, sampai yang mementingkan keuntungan materi dengan mengorbankan orang lain.

Squid Game memang seri yang sederhana, tetapi tetap menarik.

Cerita Squid Game yang strukturnya umum digunakan dan gamblang itu dalam. Seiring berjalannya seri, ceritanya menjadi semakin dalam. Cerita Squid Game itu dalam karena menyentuh perasaan-perasaan mendasar kita. Cemas akan masa depan yang tidak tentu, ingin mempunyai uang lebih banyak, juga berharap bisa keluar dari kesulitan hidup.

Demikian pula sisi horornya. Meski menampilkan banyak tubuh yang bergelimpangan, darah yang muncrat, bahkan jeroan, tetapi Squid Game tidak mengandalkan hal-hal tersebut untuk membuat kita takut. Seri ini lebih mengandalkan horor psikologis. Cemas akan ketidakmenentuan, ngeri berhadapan dengan kematian, dan tentu takut miskin.

Squid Game sebenarnya mengandung banyak hal yang khas Korea, di antaranya tentu saja permainan-permainannya, juga kisah pembelot Korea Utara, Kang Sae-byeok (Jung Hoyeon), yang mengikuti permainan agar mendapat uang untuk membawa ibunya ke Selatan. Namun, kedalaman ceritanya menyentuh perasaan mendasar banyak orang, sehingga seri ini dapat diterima secara global.

Tempo penyampaian cerita dan pemotongan per episode Squid Game juga sangat baik. Episode yang hampir satu jam tidak membosankan dan tidak terlalu penuh, memberi ruang untuk episode selanjutnya. Hal ini membuat Squid Game sangat adiktif, kita ingin menontonnya terus sampai selesai satu musim.

Di luar itu, Squid Game dengan cerita yang strukturnya umum digunakan dan gamblang hadir di tengah tren seri dengan penuh plot twist. Seri semacam Game of Thrones dan The Walking Dead. Seri yang di dalamnya kita menemukan tokoh yang dipikir akan memiliki peran penting ternyata mati beberapa adegan kemudian. Juga, cerita yang diduga akan membawa ke suatu titik ternyata membawa ke titik yang sama sekali tak diduga. Di tengah tren seperti ini, cerita yang strukturnya umum digunakan dan gamblang dalam Squid Game justru menjadi twist tersendiri. Jika kita sudah terbiasa dengan seri yang tokoh sentralnya mendadak mati, dan ceritanya tiba-tiba berbelok, seri yang tokoh utamanya benar-benar baik, selamat, dan menang jadi kejutan yang menyenangkan.

Hal lain yang membuat Squid Game menarik, tokoh-tokoh sentralnya, meski dengan penokohan sederhana, dieksplorasi dengan baik. Seiring berjalannya seri, lapisan karikatur tokoh-tokoh itu dikupas sampai kita menemukan manusia di dalamnya. Hal ini membuat kita peduli dengan mereka dan nasibnya. Contohnya adalah sang protagonis Gi-hun, dibalik seorang pengangguran, pecundang, yang berjudi dengan uang ibunya, ada manusia baik, yang tidak mau menggadaikan kemanusiaan demi apa pun.

Fokus pada karakter para tokoh ini memang disengaja, dalam sebuah wawancara dengan Variety, Hwang mengatakan, “Permainan yang ditampilkan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Hal ini membuat pemirsa untuk fokus pada karakter, daripada terganggu karena mencoba mengerti aturan (permainan).”

Hal lain lagi yang membuat Squid Game menarik adalah estetikanya yang dramatis. Permainan ditampilkan seperti dunia di dalam video game. Semua bentuk dan ukurannya dilebih-lebihkan, sudutnya tajam seperti piksel, dan warnanya cerah. Sedangkan dunia tempat tinggal para tokoh digambarkan suram keabu-abuan. Estetika ini menimbulkan kesan, ketika para tokoh meninggalkan kesehariannya untuk mengikuti permainan, mereka pindah dunia, dari dunia orang dewasa yang kelam ke dunia anak-anak yang lebih murni.

Jadi, Squid Game itu sederhana. Struktur ceritanya sudah umum digunakan. Kita bisa menebak banyak hal dalam seri ini. Ceritanya gamblang, jelas dan mudah dimengerti. Ditambah lagi dengan adanya dialog-dialog penjelas. Penokohannya sederhana. Protagonisnya baik murni, antagonisnya berkebalikan 180 derajat dari protagonis.

Namun, seri sederhana ini menarik. Cerita yang strukturnya umum digunakan dan gamblang itu dalam, menyentuh perasaan-perasaan mendasar kita. Tempo penyampaian cerita dan pemotongan per episodenya sangat baik, membuat kita ingin menontonnya terus sampai selesai satu musim. Ditambah, seri yang strukturnya umum digunakan dan ceritanya gamblang ini hadir di tengah tren seri penuh plot twist. Sehingga keumuman dan kegamblangannya justru menjadi twist tersendiri. Tokoh-tokoh sentralnya juga dieksplorasi dengan baik, membuat kita peduli dengan mereka dan nasibnya. Serta, estetikanya dramatis, mendukung cerita yang ingin disampaikan.

Rabu, 20 Oktober 2021

The Electricity Companies War

Tentang film The Current War: Director's Cut (2017)

The Current War: Director's Cut (2017) adalah film tentang persaingan yang berhubungan dengan arus listrik di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. The Current War itu film yang indah, dipenuhi dengan visual yang mengesankan. Para bintang memainkan perannya dengan cemerlang. Kostum, tata rias, dan interior mewah yang tampak di layar pun memanjakan mata.

Namun, jika berharap menyaksikan kegigihan dua orang penemu dalam upayanya menemukan sistem listrik terbaik, anda akan kecewa. Memang dalam film ini ada dua penemu besar, Edison dan Tesla. Memang film ini membicarakan sistem listrik yang waktu itu bersaing, arus searah (direct current/DC) dan arus bolak-balik (alternating current/AC). Akan tetapi, film ini bukan tentang persaingan Edison dan Tesla dalam menemukan dan mengembangkan sistem listrik terbaik.

Thomas Alva Edison (Benedict Cumberbatch)

The Current War adalah film tentang persaingan antara Thomas Alva Edison (Benedict Cumberbatch) dan George Westinghouse (Michael Shannon) sebagai pengusaha untuk mengaliri listrik di Amerika. Sebagai persaingan bisnis, persoalannya bukan menemukan dan mengembangkan sistem listrik terbaik, melainkan memenangkan tender untuk mengaliri listrik kota-kota di Amerika dengan teknologi yang dimiliki. Persoalannya bukan menjalani proses ilmiah yang penuh trial and error dengan gigih untuk mencapai hasil terbaik, melainkan memamerkan keunggulan teknologi pihak sendiri dan mengekspose kelemahan teknologi pihak lawan melalui konferensi pers dan demonstrasi teknologi.

Edison yang mempromosikan sistem listrik DC, tidak pernah mempertimbangkan sistem listrik AC sebagai sistem listrik yang lebih baik. Ketika Nikola Tesla (Nicholas Hoult) bekerja untuknya, Edison mengabaikan keinginannya untuk membangun pembangkit untuk sistem AC. Edison lebih memilih untuk menyebarluaskan keyakinannya bahwa sistem DC lebih aman, dan karenanya lebih baik, juga betapa berbahayanya sistem AC yang dipromosikan Westinghouse. Keyakinan Edison ini datang dari fakta, sistem AC beroperasi pada tegangan listrik yang jauh lebih tinggi daripada sistem DC. Mulanya, Edison hanya mengutarakan pendapatnya tersebut di depan banyak wartawan. Kemudian, ia mendemonstrasikan betapa berbahayanya sistem saingannya, dengan mengaliri seekor hewan dengan listrik AC sampai mati. Lebih jauh lagi, Edison merekomendasikan listrik AC sebagai alat eksekusi hukuman mati kepada negara bagian New York, untuk mendiskreditkan Westinghouse.

George Westinghouse (Michael Shannon)

Sementara Westinghouse, disamping menghadapi serangan Edison, mesti menghadapi persoalan yang lebih mendasar. Sistem AC sebenarnya lebih unggul daripada DC, karena listriknya dapat ditransmisikan melalui jarak yang lebih jauh. Persoalannya, Westinghouse saat itu belum memiliki pembangkit untuk sistemnya. Persoalan baru dapat diatasi setelah ia membeli paten pembangkit yang dapat beroperasi menggunakan listrik AC, dan mempekerjakan penciptanya yaitu Tesla. Tesla berhasil menciptakan pembangkit untuk sistem listrik AC, dan Westinghouse dapat mengkomersialkannya.

Perang Arus pun berakhir. Westinghouse memenangkan tender penyedia listrik untuk pameran besar Chicago World’s Fair tahun 1893. Ditambah, perusahaannya mendapat kontrak untuk membangun pembangkit listrik tenaga air besar di Air Terjun Niagara. Sedangkan Edison, meski seorang penemu terkenal, dipaksa keluar dari perusahaannya sendiri. Ia pun tidak dapat mengikuti tender Chicago World’s Fair, yang menjadi incarannya.

Nikola Tesla (Nicholas Hoult)

Agaknya Alfonso Gomez-Rejon, sang sutradara, menyadari tema persaingan bisnis dan pembicaraan yang ada di dalamnya itu membosankan untuk sebuah film. Karenanya, ia memasukkan hal-hal tentang penemuan dan kegeniusan. Edison ditampilkan, meski bercela, sebagai penemu genius dengan berbagai keeksentrikannya. Tesla ditampilkan sebagai perwujudan dari kegairahan pada persoalan teoretis murni tentang listrik. Juga, pada bagian akhir film ditunjukkan, ada yang kurang dari kemenangan Westinghouse sang pengusaha, yaitu sensasi yang dialami seorang penemu ketika berhasil menemukan sesuatu. Westinghouse bertanya kepada Edison, “I only wondered what it felt like.” Ia melanjutkan, “The bulb. When you knew. What was the feeling in that moment?

Meski sang sutradara berusaha menarik film ini menjadi film tentang penemuan dan kegeniusan, film ini tetaplah film tentang persaingan bisnis, karena fakta yang menjadi dasarnya pun memang demikian. Apa yang dapat kita terima dari film ini, yang disebut dengan Perang Arus tahun 1880-an hingga 90-an di Amerika itu sebenarnya adalah perang bisnis antara perusahaan listrik. Mungkin seperti persaingan bisnis yang lebih dekat waktunya dengan kita, antara Apple dan Microsoft untuk menguasai pasar personal computer (PC). Daripada The Current War, mungkin lebih tepat tetapi juga lebih tidak menarik, jika film ini diberi judul The Electricity Companies War.

Selasa, 10 Agustus 2021

Impresi Van Gogh

Tentang Film At Eternity’s Gate

Siapa yang tak kenal Vincent van Gogh, pelukis besar Belanda yang karya-karyanya ada di daftar lukisan termahal. Kisah hidupnya menjadi menarik karena kontras dengan penghargaan yang diperoleh setelah kematiannya itu. Hidup singkat, penuh kesulitan, ditambah pula pergulatan dengan gangguan mental. Jangankan sukses dan memiliki banyak penggemar, van Gogh semasa hidupnya disalahpahami oleh masyarakat, dan hanya mampu menjual satu atau dua lukisan. Karena menarik, sudah banyak film yang mengangkat kisah hidup van Gogh.

At Eternity’s Gate (2018) karya Julian Schnabel, sutradara dan salah satu penulis naskah, adalah sebuah film biografi impresionistik. Film ini bukan suatu usaha serius untuk memahami van Gogh atau seninya. Film ini lebih sebagai suatu cara untuk menikmati keindahan yang menawan sang seniman, juga bagaimana rasanya menjadi sang seniman yang diliputi dan terobsesi dengan kebutuhan tak terhindarkan untuk menyampaikan keindahan itu pada dunia. Menyaksikan film ini, kita tenggelam dalam dunia van Gogh, bersama sang seniman mengalami dan melukisnya. Tentang melukis, meski tidak berfokus pada teknik van Gogh, film ini menampilkan caranya melukis. Seperti cara van Gogh menggunakan sapuan tegas untuk memperkuat garis objek saat cat masih basah. Van Gogh melukis dengan cepat, dan ketergesaan ini merupakan bagian integral dari estetika dan pendekatannya. Schnabel sendiri memang seorang pelukis. Sehingga dapat dikatakan, At Eternity’s Gate adalah penghargaan dari seorang pelukis ke pelukis lainnya.

Van Gogh di film ini diperankan oleh Willem Dafoe. Aktor yang seperempat abad lebih tua dari van Gogh pada saat kematiannya. Dafoe berusia 63 tahun pada saat memerankan van Gogh, sedangkan van Gogh meninggal pada usia 37 tahun. Hal ini tidak menjadi pilihan yang ganjil karena, setidaknya berdasarkan lukisan potret dirinya, van Gogh memang tampak lebih tua dari usianya. Van Gogh yang diperankan Dafoe itu tampak sakit-sakitan, kurus, dan pucat. Penampilan seorang pria yang disiksa oleh kehidupan yang serba kekurangan dan kesakitan. Sedangkan matanya lebar, jeli, bersemangat, namun cemas. Karena dengan matanya, van Gogh melihat dunia yang keindahannya mengilhami lukisannya. Tatapannya yang gigih ini juga menunjukkan suatu dorongan untuk terus hidup meskipun kesulitan tak henti-henti menimpanya.

Kelemahan besar film ini adalah, Schnabel memilih untuk menggambarkan kematian van Gogh sebagai penembakan yang tidak disengaja oleh sekelompok anak muda, suatu pendapat alternatif. Pendapat ini, menurut Greg Cwik, ada di buku Van Gogh: The Life (2011) karya Steven Naifeh dan Gregory White Smith. Pendapat umum mengenai hal ini adalah, kematian van Gogh dikarenakan upaya bunuh diri. Bentuk film biografi impresionistik yang dipilih Schnabel tidak tepat untuk mengajukan suatu pendapat alternatif, yang membutuhkan narasi kuat. Dengan bentuk yang dipilihnya itu, lebih bagus jika Schnabel menampilkan peristiwanya secara impresionistik. Van Gogh ditemukan berdarah di ladang, dibawa kembali ke kamarnya, dan meninggal beberapa hari kemudian. Kesan atas peristiwa itu, serahkan saja ke penonton.

Minggu, 19 Juli 2020

Sosialisme Indonesia (Bagian 2)


Sebelumnya telah disampaikan, masyarakat Indonesia memiliki akar kolektivisme, yang ada dalam kehidupan dan hukum adat masyarakat desa. Di samping itu, masyarakat Indonesia sedang mengalami proses individualisasi, yang dibawa oleh ekonomi modern. Individualisasi ini menuju ke individualisme serta kapitalisme, sistem politik ekonomi yang lahir dari individualisme.

Hatta melihat, jika sampai ke kapitalisme, akan berbahaya bagi bangsa Indonesia, karena kapitalisme nasional akan disaingi dan dihancurkan oleh kapitalisme asing yang sangat kuat dan berkuasa. Kemudian, kapitalis asing akan mengambil dari kapitalis nasional, apa yang dapat digunakannya untuk mencengkeram masyarakat Indonesia.

Karena memiliki akar kolektivisme, masyarakat Indonesia tidak harus sampai di kapitalisme, dan individualisasi yang sedang berjalan dapat dibelokkan ke sosialisme Indonesia. Sosialisme Indonesia adalah suatu kolektivisme baru, yang berakar pada kolektivisme lama, sekaligus lebih tinggi, lebih modern, dan lebih efektif dari individualisme. Individualisasi yang sedang berjalan itu dibelokkan ke sosialisme Indonesia melalui organisasi dan pendidikan sosial, yang berdasarkan “... usaha-bersama untuk membela kepentingan bersama, berdasarkan self-help, tolong diri-sendiri.”

Hatta menamakan organisasi itu ‘kooperasi ekonomi’, yang ia bedakan dengan kolektivisme lama masyarakat Indonesia yang disebutnya ‘kooperasi sosial’. ‘Kooperasi ekonomi’ adalah sintesis dari ‘kooperasi sosial’ dan individualisme yang sedang berkembang, karena mencakup dan mengangkat kedua hal tersebut. Dalam kata-kata Hatta sendiri, “Diatas dasar kooperasi sosial jang lama dibangun kooperasi ekonomi, dimana ada kebebasan bagi individu untuk mengambil inisiatif atas persetudjuan bersama bagi keperluan bersama.” Hatta menegaskan, “Kooperasi sematjam ini menghidupkan djiwa kolektif jang dinamis, sedangkan kepribadian manusia tidak tertindas.”

Hatta membayangkan, sosialisme Indonesia itu “... bersendikan bangunan-bangunan kooperasi, jang akan meliputi seluruh bidang ekonomi : konsumsi, produksi, distribusi dan kredit.” Dalam sosialisme, negara sebagai organisasi penguasa akan lenyap, berganti menjadi organisasi pengurus masyarakat, membagikan barang-barang yang dihasilkan bersama kepada orang banyak. Karenanya, Indonesia menjadi “... suatu persemakmuran kooperasi, dalam perhubungan kerdja-sama dengan menjingkirkan segala persaingan”, yang di dalamnya “Tiap-tiap organisasi masjarakat, besar dan ketjil, dapat berbentuk kooperasi…”

Secara realistis, Hatta berharap, “... sekurang-kurangnja tjita-tjita ini dapat dilaksanakan pada pemerintahan rakjat jang terbawah. Pemerintah desa sebadan dengan pengurus kooperasi desa. Desa dan kooperasi mendjadi identik.”

Pada Bagian 1 telah disebutkan, kondisi yang khas dari Indonesia dan negara-negara jajahan lainnya adalah adanya kapitalisme kolonial. Di negara jajahan, kapitalisme kolonial adalah kekuatan penentang yang sangat besar terhadap lawan-lawannya. Hatta menganalisis, adanya kapitalisme kolonial di Indonesia justru mempermudah jalan menuju sosialisme. Penjelasannya sebagai berikut. Kapitalisme kolonial dengan kekuatannya yang sangat besar tidak memberi kesempatan pada kapitalisme Indonesia yang masih muda. Dengan tidak memberi kesempatan untuk berkembang, kapitalisme kolonial - sebagai efeknya - membuka jalan untuk lawan dari kapitalisme Indonesia, yaitu kooperasi Indonesia. Pada gilirannya, kooperasi Indonesia berkembang dan menjadi sendi dari sosialisme Indonesia.

Cita-cita sosialisme Indonesia adalah, “... terlaksananja pergaulan hidup di Indonesia, dimana tak ada penindasan dan penghisapan dan terdjaminnja bagi rakjat, bagi tiap-tiap orang, kemakmuran dan kepastian penghidupan serta perkembangan keperibadiannja.”

Menurut Hatta, cita-cita sosialisme Indonesia senantiasa menyala dalam dada orang Indonesia. Pada masa penjajahan, cita-cita itu menyala dalam perjuangan orang Indonesia melawan kolonialisme dan fasisme. Pada masa kemerdekaan, cita-cita itu hidup dalam Undang-Undang Dasar 1945. Persisnya, sosialisme Indonesia itu ada di:

Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang
        banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
        dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Pasal 27
(2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
        kemanusiaan.

Pasal 34
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Pasal-pasal tersebut adalah pegangan untuk merealisasikan cita-cita sosialisme Indonesia. Hatta yakin, “Apabila didjalankan sungguh-sungguh, tudjuan sosialisme jang terdekat akan tertjapai, jaitu rakjat Indonesia terlepas dari kesengsaraan hidup dan tiap-tiap orang terdjamin penghidupannja.”

Penjelasan pasal-pasal di atas sebagai sosialisme Indonesia adalah sebagai berikut. Pasal 33. Yang dimaksud dengan “usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” adalah kooperasi, seperti yang dipahami dalam sosialisme Indonesia. Pekerjaan membangun ekonomi masyarakat itu dibagi antara kooperasi dan negara. Kooperasi membangun dari bawah, sebagai kerja sama orang banyak untuk menyusun dasar-dasar kemakmuran rakyat. Negara melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

“Dikuasai oleh negara” itu tidak berarti pemerintah menjadi pengusaha, melainkan pemerintah menetapkan politik perekonomian. Pekerjaannya sendiri diserahkan kepada badan-badan pelaksana yang bertanggung jawab kepada pemerintah, dan kerjanya dikontrol oleh negara. Pada masa menuju sosialisme, badan-badan itu bisa perusahaan-perusahaan negara yang berbentuk badan usaha, bisa pula perusahaan-perusahaan swasta yang berbentuk perseroan terbatas. Siapa yang lebih tepat mengerjakan, bergantung pada tenaga yang ada dan struktur masyarakat yang sedang berkembang, karena sosialisme sendiri menghendaki pekerjaan yang efisien, yang tepat menurut tujuannya.

Pasal 27 Ayat 2. “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” itu artinya negara harus mempunyai rencana yang teratur untuk memenuhi tuntutan yang asasi ini.

Pasal 34. “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” adalah pelaksanaan keadilan sosial, karena di dalam sosialisme yang dicita-citakan tidak ada lagi kemiskinan.

Telah disampaikan sosialisme Indonesia menurut Hatta. Secara tertulis, sosialisme adalah cita-cita bangsa Indonesia, menjadi sila dalam Pancasila, dan dituangkan dalam pasal-pasal UUD 1945. Mempelajari pemikiran Hatta, mengangkat berbagai pertanyaan dari kenyataan yang ada. Seberapa jauh kita sebagai bangsa sudah berjalan menuju cita-cita sosialisme Indonesia? Apakah perjalanan yang kita tempuh mendekatkan kita padanya, atau malah menjauhkan kita darinya? Apakah sosialisme masih menjadi cita-cita bersama kita sebagai bangsa? Apakah kita dalam berusaha menjalin kerja sama dan menyingkirkan persaingan untuk kemakmuran bersama? Ataukah kita dalam berusaha hanya memanfaatkan yang lain untuk keberhasilan sendiri? Apakah sosialisme Indonesia kini tinggal menjadi angan dari seseorang yang telah lama meninggalkan kita, meski orang itu adalah pendiri bangsa, proklamator, dan pemikir ekonomi?

Pustaka
Hatta, Mohammad. Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1963.

Tulisan ini dimuat juga di website sekolahpancasila.com

Sosialisme Indonesia (Bagian 1)


Sila Kelima Pancasila berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Itu artinya kita, sebagai bangsa, menganut suatu sosialisme. Namun, sosialisme yang seperti apa? Sosialisme sendiri ada banyak macamnya. Ada sosialisme utopis, sosialisme realis, sosialisme etis, dan sosialisme ilmiah Karl Marx. Sebagai cabang besar sosialisme, ajaran Marx sepeninggalnya terbagi lagi menjadi: Marxisme revisionis, Marxisme dogmatis, dan Marxisme Leninisme. Persamaan dari beragam sosialisme itu adalah, mencita-citakan masyarakat tanpa penindasan dan penghisapan, serta jaminan penghidupan, aktualisasi diri, dan kemakmuran untuk setiap orang.

Mohammad Hatta (1902-1980), yang bersama Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, adalah salah satu tokoh yang memikirkan sosialisme Indonesia. Dalam Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia (1963). Hatta memaparkan pemikirannya itu. Dalam buku tersebut, ada tiga hal yang dipaparkan oleh Hatta. Pertama, sosialisme. Hatta membahas macam-macam sosialisme sebagai suatu perkembangan, dari sosialisme utopis sampai sosialisme pasca-Marx. Banyak porsi pembahasannya digunakan untuk menjelaskan tentang sosialisme Marx. Suatu hal yang wajar, menimbang pemikiran Marx adalah cabang besar sosialisme. Kedua, sosialisme Indonesia. Bertolak dari pembahasannya tentang perkembangan sosialisme, Hatta mengajukan pemikirannya tentang sosialisme Indonesia, sosialisme yang sudah berakar dan dapat tumbuh serta berkembang di Indonesia. Ketiga, persoalan ekonomi sosialis Indonesia. Hatta menyampaikan persoalan-persoalan ekonomi pokok yang mesti dihadapi sosialisme Indonesia untuk mencapai cita-citanya.

Tulisan ini hendak menyampaikan pemikiran Hatta tentang sosialisme Indonesia. Untuk mencapai maksudnya, tulisan ini dibagi menjadi dua bagian. Sebagai latar, Bagian 1 akan menyampaikan ragam sosialisme yang sampai ke Indonesia menurut Hatta. Sebagai dasar, Bagian 1 selanjutnya akan menyampaikan sumber sosialisme dalam masyarakat Indonesia sendiri juga menurut Hatta. Setelah latar dan dasarnya disampaikan, barulah pada Bagian 2 akan disampaikan pemikiran Hatta tentang sosialisme Indonesia.

Mari kita mulai dengan ragam sosialisme yang sampai ke Indonesia. Di Indonesia, sosialisme itu lahir dari pergerakan kebangsaan. Hatta mengatakan, “Dalam pergerakan jang menudju kebebasan dari penghinaan diri dan pendjadjahan, dengan sendirinja orang terpikat oleh tuntutan sosial dan humanisme - peri-kemanusiaan - jang disebarkan oleh pergerakan sosialisme di benua Barat.” Untuk Hatta, sosialisme itu pertama-tama dicita-citakan. Tidak perlu oleh masyarakat banyak, suatu kelas, tetapi cukup oleh sekelompok kecil orang. Lantas, kelompok kecil itu mau memperjuangkan cita-cita sosialisme, mau menjadi pelopor dalam masyarakat.

Menurut Hatta, ragam sosialisme yang sampai ke Indonesia adalah sosialisme demokratis, yang merupakan revisi atas ajaran-ajaran Marx. Sosialisme demokratis sampai ke Indonesia melalui orang-orang sosialis Belanda dan buku-buku propagandanya. Sosialisme demokratis adalah sosialisme yang percaya pada demokrasi, dan mengutamakan perjuangan di dalam parlemen. Di samping sosialisme demokratis, ada pula ragam lain sosialisme yang masuk ke Indonesia, yaitu komunisme. Namun Hatta mengatakan, penganut komunisme di Indonesia itu terbatas.

Di Indonesia, sosialisme yang datang dari Barat itu bertemu dan ternyata sesuai dengan Islam, agama mayoritas bangsa Indonesia. Beberapa ajaran Islam yang searah dengan sosialisme adalah sebagai berikut. Pertama, Islam mengajarkan persaudaraan umat manusia. Manusia diajarkan untuk saling menyayangi, dan saling menolong, dalam suasana persaudaraan. Kedua, Islam melarang segala praktik yang menurunkan derajat manusia, termasuk penghisapan dan penindasan. Hal ini membuat Islam melawan kapitalisme, yang menghisap dan menindas manusia. Ketiga, Islam mengajarkan dunia ini milik Allah, manusia hanya mendiaminya untuk sementara, dan berkewajiban memelihara serta meninggalkannya dalam keadaan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang. Hal ini searah dengan sosialisme yang mengajarkan, dunia ini bukan milik seseorang atau sekelompok orang.

Meski menganut sosialisme, sebagian pemimpin Indonesia tidak dapat menerima ajaran Marx, yaitu materialisme historis, sebagai pandangan hidup. Mereka hanya menerima materialisme historis sebatas teori ilmiah, yang kebenarannya hanya berlaku jika kondisi-kondisi yang menjadi syaratnya dipenuhi. Oleh mereka, teori Marx digunakan untuk mempelajari perkembangan masyarakat di atas pengaruh fakta-fakta ekonomi. Kondisi yang khas dari Indonesia dan negara-negara jajahan lainnya, tetapi tidak dibicarakan oleh Marx adalah, kapitalisme kolonial. Di negara jajahan, kapitalisme kolonial adalah kekuatan penentang yang sangat besar terhadap perjuangan kelas. Hal ini membuat, perubahan kapitalisme menjadi sosialisme - seperti yang dibicarakan Marx - tidak terjadi.

Karena tidak dapat menerima Marxisme sebagai pandangan hidup, para pemimpin Indonesia mencari sumber sosialisme dalam masyarakat Indonesia sendiri. Mereka menemukannya dalam ‘masyarakat desa yang kolektif’.

Dasar dari kolektivisme masyarakat desa adalah ‘kepemilikan tanahnya’. Dalam masyarakat desa, tanah bukan milik perorangan, melainkan kepunyaan desa. Perorangan itu hanya mempunyai hak pakai. Dengan hak pakai, perorangan dapat menggunakan tanah yang masih kosong, sebanyak yang dapat dikerjakannya, untuk keperluan hidupnya sekeluarga. Tanah itu dapat dipakai selamanya, secara turun-temurun. Namun dengan hak pakai, perorangan tidak boleh menjual tanah itu, karena bukan miliknya. Jika ia berhenti mengerjakannya, tanah itu kembali ke desa, dan desa dapat menyerahkannya kepada orang lain yang ingin mengerjakannya.

Kepemilikan bersama atas tanah itu, kemudian membentuk semangat kolektif masyarakat desa. Tanah adalah alat produksi utama dalam masyarakat desa yang agraris, dan alat itu dimiliki bersama, maka perorangan dalam menggunakan tenaga ekonominya selalu merasa terikat kepada persetujuan masyarakat sedesa.

Semangat kolektif itu selanjutnya menerangi semua aspek kehidupan masyarakat desa. Semua pekerjaan yang berat, yang tidak dapat ditanggung oleh perorangan, dilakukan bersama-sama secara gotong royong. Hal ini tidak hanya berlaku untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kepentingan umum, tetapi berlaku juga untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kepentingan privat. Semangat kolektif masyarakat desa tidak berhenti sampai ‘berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’, lebih dari itu ‘sedih sama diderita, gembira sama dirasa’. Salah satu manifestasi dari semangat kolektif itu adalah tradisi ‘selamatan’ yang sering diadakan dengan berganti tempat. Hatta yakin kerjasama sosial ini dapat menjadi landasan untuk kooperasi ekonomi sosialisme Indonesia, “Maka dengan semangat tolong-menolong itu tertanamlah didalam masjarakat desa jang asli dasar kooperasi sosial, jang dapat didjadikan landasan untuk membangun kooperasi ekonomi, sebagai sendi perekonomian masjarakat”.

Lantas, bagaimana posisi individu di dalam masyarakat yang komunal seperti itu. Untuk menjawab persoalan ini, Hatta menengok ‘hukum adat’. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal, yang tidak mengenal pemisahan hukum publik dan hukum privat secara tegas. Sifat komunal itu membuat ‘hukum adat’ harus dipahami, tidak dari sisi hak individu, melainkan dari sisi kepentingan bersama di atas hak individu.

Dalam hukum seperti itu, yang utama adalah masyarakat, bukan perorangan. Perorangan dipandang sebagai anggota masyarakat. Di satu sisi, perorangan adalah alat untuk melaksanakan tujuan masyarakat. Tujuan hidup perorangan adalah berkarya untuk masyarakat. Di sisi lain, perorangan adalah juga pemangku hak. Hak yang dipangku perorangan adalah hak masyarakat, berupa kekuasaan yang memiliki fungsi tertentu dalam masyarakat. Perorangan diharapkan menggunakan kekuasaan itu sesuai dengan tujuan sosial hukum adat.

Dilihat dari hak individu semata, hal ini tampak sebagai pengsubordinasian individu dari masyarakat. Namun dalam masyarakat komunal, perorangan diliputi kesadaran untuk bersekutu, dan perasaan seiya sekata dengan masyarakat. Sehingga, perorangan menyadari tugas-tugas kemasyarakatan bukan sebagai beban yang ditimpakan kepadanya, melainkan sebagai jabatan yang biasa dan sepatutnya dalam kehidupan.

Meski mengutamakan komunalisme, Hatta melihat individualisasi sebagai proses yang niscaya. Individualisasi adalah akibat dari ekonomi modern. Yang ditakutkannya adalah, proses individualisasi itu menuju individualisme, yang membendakan segala hubungan manusia. Namun Hatta optimis, proses individualisasi tidak akan melenyapkan sifat kolektif masyarakat Indonesia dengan hukum adatnya. Optimisme itu berdasarkan pada pengamatan Holleman dan Soepomo yang melihat, bahkan di desa paling maju, cita-cita kolektif hidup terus.

Hatta juga melihat, perubahan masyarakat, akan menimbulkan adat-adat baru, dan pada gilirannya akan mengubah pula hukum adatnya. Namun sekali lagi Hatta optimis, meski hukum adatnya berubah, kolektivisme akan tetap hidup dalam masyarakat Indonesia.

Bagian berikutnya akan menyampaikan sosialisme Indonesia menurut Hatta. Nantikan. Salam Pancasila!

Pustaka
Hatta, Mohammad. Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1963.

Tulisan ini dimuat juga di website sekolahpancasila.com

Senin, 03 Februari 2020

Lahirnya Tragedi Komedi

Sebuah Tulisan tentang Film Joker (2019)


Spoiler Alert! Tulisan ini menyampaikan poin-poin penting dan akhir dari cerita film Joker.

Film Joker (2019) itu sensasional. Anda bisa suka atau tidak suka dengan film itu. Yang sulit, tidak merasakan apa-apa terhadapnya. Setidaknya ada tiga sensasi terhadap Joker. Pertama, kaget. Diketahui banyak orang, Joker itu musuh Batman, tokoh dari dunia komik, yang biasa dikonsumsi anak-anak. Orang yang menduga akan menyaksikan tokoh badut yang biasanya ada dalam hiburan anak-anak, tentunya akan kaget, karena film garapan Todd Phillips itu ditujukan untuk penonton dewasa, membicarakan tema-tema dewasa, memiliki kompleksitas cerita yang hanya dimengerti - atau tidak - oleh orang dewasa, dan menampilkan adegan-adegan yang hanya cocok disaksikan oleh orang dewasa. Orang-orang yang kaget, setelah menonton filmnya, akan bilang, “Jangan bawa anak-anak ya, filmnya ga cocok buat mereka.”

Kedua, tidak nyaman. Orang umumnya menonton film untuk mendapatkan hiburan. Apalagi jika antisipasinya adalah menonton film tentang tokoh komik. Untuk memenuhi itu, banyak film menampilkan pemandangan, adegan, cerita, pokoknya segala hal yang indah atau dibuat indah. Bahkan perang pun bisa ditampilkan dengan indah. Jangan harap hal itu ada dalam film Joker. Bukan hanya tokoh dan kisahnya yang gelap, tentang orang yang bergumul dengan kondisi mental dan penderitaan hidupnya. Kotanya pun kotor dan jorok. Gotham dalam film Joker adalah kota yang kumuh, sampah berserakan di mana-mana, dan tengah diserang hama tikus raksasa. Menonton film itu, jangankan terhibur, nyaman pun tidak.

Ketiga, takut akan dampaknya. Kelanjutan dari sensasi pertama dan kedua, sensasi ini muncul setelah selesai menonton filmnya. Takut film gelap bertema dewasa itu mempunyai dampak atas dunia nyata. Mungkin yang paling umum adalah, takut ada orang di dunia nyata yang meniru apa yang dilakukan Joker dalam film, terutama membunuh. Selain itu, ada pula yang takut, orang di dunia nyata ‘ketularan’ kondisi yang dimiliki tokoh yang dimainkan Joaquin Phoenix itu dalam film, ikut-ikutan merasa mempunyai kondisi mental, dan melakukan hal-hal aneh.

Karena kesensasionalannya itu, banyak orang membicarakan film Joker. Mulai analisis serius dari berbagai sudut pandang - sosiologis, psikologis, bahkan moralis - sampai meme viral, “Orang jahat lahir dari orang baik yang ...”

Untuk saya, film itu adalah perjalanan matinya Arthur Fleck, serta lahirnya Joker. Apa yang dilakukan sang protagonis sepanjang film itu adalah segala upaya untuk melepaskan dirinya dari jerat-jerat “sistem” (Joker). Namun, upaya demi upaya yang dilakukan sang protagonis itu mematikan satu bagian dirinya, sekaligus memunculkan bagian yang lain.

Film Joker berlatar Gotham - kota tempat Batman dan musuh-musuhnya beraksi - di tahun 1981. Pada masa itu, warga Gotham bergulat dengan pengangguran, kemiskinan, dan kejahatan. Kotanya sendiri dililit oleh masalah keuangan. Dinas kebersihan tidak dibayar, membuat sampah tidak diangkut dan menumpuk. Jaminan kesehatan dipotong, membuat sebagian warga tidak mendapatkan akses pada pelayanan kesehatan.


Arthur Fleck hidup di dalam kota dan masyarakat dengan “sistem” yang bobrok seperti itu. Sebobrok-bobroknya suatu sistem, kalau masih bekerja, akan memberi upah jika kita hidup sesuai dengannya, dan akan memberi hukuman jika kita hidup berlawanan dengannya. Namun untuk Arthur, seorang badut, berpendapatan pas-pasan, dengan kondisi mental tidak dapat mengontrol tawanya, dan mengandalkan BPJS versi Gotham untuk menanggulangi kondisinya itu, “sistem” selalu menilainya salah. Salah waktu, salah tempat, salah kostum, salah karena miskin, salah karena aneh, dan salah-salah lainnya. Karena salah, “sistem” pun menghukumnya.

Untuk Arthur, satu-satunya yang bekerja dalam “sistem” itu adalah hubungan dengan ibunya. Arthur mengurus dan merawat ibunya, sebagaimana ibunya mencintai dan mengasihi Arthur sejak kecil. Setidaknya Arthur pikir demikian.

Sebagai bagian ‘kelas bawah’ dalam “sistem”, Arthur harus menerima berbagai perlakuan yang kebanyakan buruk dari orang-orang yang memang atau merasa di atasnya. Salah satunya, remaja-remaja yang mengganggunya saat bekerja. Tidak selesai sampai di situ, ia bahkan harus mengganti kerusakan yang dibuat remaja-remaja itu.

Puncaknya, setelah dipecat dari tempat kerjanya, dan tidak lagi mendapatkan penanganan dan obat untuk kondisi mentalnya, Arthur di-bully dan dikeroyok oleh tiga orang eksekutif perusahaan Wayne - milik Thomas Wayne yang anaknya kelak menjadi Batman - di kereta bawah tanah.


Tidak tahan lagi dengan perlakuan “sistem” dan orang-orang atasnya, Arthur pun membunuh tiga eksekutif itu. Setelah syok atas apa yang telah dilakukannya, ia lantas dengan ringannya menari, seperti terbebas dari jeratan yang menyesakkan. Persisnya, ia terbebas dari jerat sistem kelas dalam masyarakat, yang punya aturan tak tertulis, “Yang atas boleh sewenang-wenang pada yang bawah.”

Ke depannya, Joker akan melawan bahkan membunuh orang-orang yang menghinanya, menertawakannya, mem-bully-nya, pokoknya sewenang-wenang terhadapnya. Bukan untuk balas dendam, tetapi untuk “... membuat orang-orang tertawa”. Kalau orang-orang tidak tertawa, menurut Joker, itu karena mereka tidak mengerti apa yang dilakukannya sebagai komedi yang lucu.

Dengan melawan hingga membunuh tiga eksekutif perusahaan Wayne itu, dimulailah proses kematian Arthur dan kelahiran Joker.

Proses itu berpuncak setelah Arthur membunuh ibunya. Hubungan dengan ibunya, tadinya ia pikir, adalah satu-satunya yang bekerja dalam “sistem”. Hubungan kasih sayang orang tua dan anak, di mana ia mengurus dan merawat ibunya, sebagaimana ibunya mencintai dan mengasihinya sejak kecil. Namun, Arthur kemudian mengetahui, ibunya kemungkinan berbohong, tentang siapa sebenarnya ayahnya, siapa sebenarnya ibunya, dan karenanya siapa sebenarnya dirinya. Lebih parah lagi, ia pun kemudian mengetahui, ibunya membiarkan pacarnya saat itu menyiksa Arthur kecil hingga mengalami trauma parah di kepalanya.

Mengetahui satu-satunya hubungan yang - tadinya ia pikir - bekerja dengan baik itu adalah kebohongan, membuat eksistensi Arthur Fleck sekarat, melemah menuju kematian. Semakin lemah Arthur Fleck, semakin kuat Joker muncul ke permukaan. Dengan pengetahuan itu, Arthur menghampiri ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. Namun agaknya, yang datang ke rumah sakit bukanlah Arthur, melainkan Joker. Sebab, ia berkata demikian kepada ibunya, “Remember you used to tell me that my laugh was a condition, that there was something wrong with me? It isn’t. That’s the real me.” (Ingatkah ibu selalu bilang tawaku itu suatu penyakit, bahwa ada yang salah denganku? Bukan. Itu aku yang sebenarnya.) (Joker). Kemudian, ia membekap ibunya dengan bantal sampai mati.

Setelah membunuh ibunya, Arthur Fleck mati, dan Joker lahir. Dengan membunuh ibunya, Arthur Fleck telah memutuskan ikatan utama dari jaring “sistem”. Jaring yang menjeratnya dari segala arah, dari “sistem” yang menilainya selalu salah. Meski tidak selalu adil, sebenarnya “sistem” itu adalah ‘kenormalan’, yang membentuk dan menopang manusia agar menjadi dan tetap normal. Setiap perbuatan yang sesuai dengan ‘kenormalan’ akan memperkuat ikatan jaring “sistem” itu, sedangkan setiap perbuatan yang bertentangan dengan ‘kenormalan’ akan memutus satu ikatan jaring itu. ‘Ibu’ sendiri mempunyai banyak peran penting dalam ‘kenormalan’, yang melahirkan, yang mengurus, yang menyayangi, dan sebagainya. Sehingga ‘ibu’ menjadi titik dari salah satu ikatan utama jaring ‘kenormalan’. Melakukan hal yang sesuai ‘kenormalan’ kepada ‘ibu’, akan memperkuat ikatan jaring ‘kenormalan’, dan diberi upah oleh “sistem”, misalnya dipuji sebagai ‘anak yang berbakti’. Melakukan hal yang bertentangan dengan ‘kenormalan’ kepada ‘ibu’, akan memutuskan ikatan utama jaring ‘kenormalan’, bahkan hingga ‘kenormalan’ tidak dapat lagi menopang orang itu. Jika seseorang sudah tidak ditopang ‘kenormalan’, orang itu dapat dinilai ‘tidak normal’, ‘tidak waras’, ‘gila’, atau penilaian-penilaian seperti itu. Hal ini misalnya tertuang dalam reaksi banyak orang ketika mendengar berita seorang anak membunuh ibunya, “Udah gila kali tuh orang.” Jadi dengan membunuh ibunya, sistem yang sejak awal sudah tidak bekerja dengan baik untuk Arthur, dan semakin banyak ikatannya yang putus seiring perbuatan-perbuatan salah yang dilakukan Arthur, itu jebol dan tidak bisa lagi menopang ‘kenormalan’. Arthur Fleck yang meski pecundang, tidak lucu, aneh, miskin, tetapi masih dan berusaha untuk tetap normal itu pun mati.

Sedangkan untuk Joker, membunuh ibunya adalah puncak proses kelahirannya ke dunia. Gangguan-gangguan yang dialami Arthur Fleck itu menyebabkan ‘kontraksi’ mental untuknya. Karena gangguan dalam hidupnya itu semakin sering dan semakin besar, ‘kontraksi’ yang dialami Arthur pun semakin sering dan semakin kuat, seperti dalam proses melahirkan. Momen di saat Arthur mengetahui bahwa hubungan dia dan ibunya adalah kebohongan, seperti pecahnya air ketuban, hilangnya lapisan yang melindungi hubungan ibu dan anak disebabkan suatu dorongan, dan menandakan ada yang siap dilahirkan. Ketika ia membekap ibunya sampai mati, Joker mendorong dirinya keluar dan memutuskan hubungan dengan ibunya, seperti lahirnya seorang bayi yang diikuti pemotongan tali pusat. Joker pun telah lahir.

Joker yang baru lahir ini bukanlah Arthur Fleck, manusia yang terikat dengan norma-norma dan hanya menerima apa yang dunia lemparkan kepadanya. Joker adalah makhluk tanpa ikatan, seperti yang dikatakannya, “I’ve got nothing left to lose. Nothing can hurt me anymore.” (Saya tidak punya apa-apa. Tidak ada yang dapat menyakitiku lagi.) (Joker). Dengan kebebasannya, ia ingin menciptakan dunia yang menjadikannya pusat, dunia yang orang-orangnya tertawa dan bersukaria dengan apa yang dilakukannya. Bukan menertawakan dirinya, tetapi menertawakan apa yang dilakukan Joker karena memahaminya sebagai komedi yang lucu.


Kini saatnya Joker mewartakan kedatangannya pada dunia. Tahun 80-an, kalau ingin terkenal, ya masuk TV, kan belum ada internet, media sosial, Youtube, dan sebagainya. Sebelumnya, Arthur mendapat undangan untuk tampil di talk show Murray Franklin, karena acara itu memperoleh video pementasannya yang gagal. Arthur yang ingin menjadi pelawak berkesempatan untuk melakukan stand up comedy. Namun di atas pentas, Arthur gagal menyelesaikan pertunjukannya karena kumat, ia terus-menerus tertawa secara tak terkendali. Ternyata kejadian itu ada yang merekam, dan dikirim untuk diputar di acara talk show TV. Orang-orang tertawa dibuatnya, tetapi bukan menertawakan lawakan Arthur, melainkan menertawakan kegagalannya. Arthur pun diundang ke acara itu untuk ditampilkan sebagai pelawak gagal yang cuma bisa tertawa-tawa.

Untuk tampil di acara itu, ia mengecat rambutnya dengan warna hijau, merias mukanya dengan riasan badut, dan mengenakan setelan jas berwarna cerah. Hal ini membuatnya tampil sebagai Joker.

Di acara itu Joker, tidak menerima saja seperti Arthur Fleck, menggugat sistem dan masyarakat, “All of you, the system that knows so much, you decide what’s right or wrong. The same way that you decide what’s funny or not.” (Kalian semua, sistem yang tahu segalanya, kalian memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. Sebagaimana kalian memutuskan apa yang lucu dan apa yang tidak lucu.) (Joker). Selanjutnya Joker mengakui, ia lah yang membunuh tiga eksekutif perusahaan Wayne. Ketika seluruh penonton di studio menghakimi dan mencelanya, ia menggugat kembali, “Oh, why is everybody so upset about these guys? If it was me dying on the sidewalk, you’d walk right over me. I pass you everyday and you don’t notice me!” (Kenapa semua orang begitu marah tentang pembunuhan orang-orang itu? Jika saya yang sekarat di pinggir jalan, kalian akan lewat begitu saja. Saya bertemu kalian setiap hari dan kalian tidak kenal saya!) (Joker). Joker pun menutup penampilannya di TV dengan aksi yang spektakuler, menembak pembawa acara talk show itu Murray Franklin, di depan semua penonton di studio dan pemirsa di rumah.

Dunia yang diinginkan Joker tampaknya mulai terbentuk. Pembunuhan yang dilakukan Arthur terhadap tiga eksekutif Wayne menyebar lewat berita sebagai ‘pembunuhan kelas atas oleh orang berias badut’. Gotham yang dilanda kesenjangan sosial, membuat penerimaan atas peristiwa itu terbagi, ada yang mengutuknya sebagai pembunuhan keji, tetapi banyak pula yang menerimanya sebagai perlawanan terhadap kelas atas, dan menjadikan badut sebagai simbol perjuangan kelas. Pada saat Joker tampil di TV, orang-orang yang terinspirasi si badut melakukan demonstrasi di jalan, untuk melawan sistem yang tidak adil, dengan menggunakan topeng badut. Demo kemudian tersulut menjadi huru-hara. Penampilan Joker di TV membuat para demonstran tahu siapa inspirator mereka. Ketika Joker sudah keluar dari studio TV dan berada di tengah huru-hara itu, ia menyaksikan Gotham yang kacau, yang berarti “sistem” telah rusak. Ia pun melihat para demonstran menyorakinya bak seorang pahlawan, mungkin untuk pertama kali orang-orang menerimanya seperti itu. Untuk Joker, ini bukan huru-hara, ini adalah hura-hura. Ia dengan sukaria menikmati kerusakan “sistem” dan pujaan orang banyak.


Kalau mau belajar dari film Joker, ketika kita bertanya seperti, “Sampai mana skripsinya?”, “Sudah kawin?”, “Sekarang kerja di mana?”, atau ketika kita menilai orang lain dengan, “Dasar bodoh”, “Ga lucu”, “Pecundang”, pokoknya menanyakan atau menilai orang dengan hal-hal normal yang biasanya orang lakukan, itu artinya kita menjadi agen ‘kenormalan’, orang yang menerapkan atau memeriksa apakah hidup seseorang sesuai dengan ‘kenormalan’ atau tidak. Ingat, seperti dalam film, ‘kenormalan’ menghukum orang yang hidup tidak sesuai dengannya, tetapi “sistem” itu belum tentu adil. Ketika kita menanyai atau menilai orang lain, jangan-jangan dalam diri orang itu ada Joker yang menanti untuk lepas. Tidak usah takut, dalam dunia yang keras dan dingin, dengan “sistem” yang tidak adil, setiap orang adalah Arthur Fleck yang menanti untuk diajak bicara dan dipahami. Mungkin juga, diajak nonton film Joker.

Film
Joker. Sutradara Todd Phillips. Warner Bros. Pictures, 2019. Film.

Rabu, 09 Oktober 2019

16-Bit Rabbit Hole

Tulisan tentang Game Tiny Toon Adventures: Buster Busts Loose! (SNES)

Tiny Toon Adventures: Buster Busts Loose! (SNES) box art

Kali ini saya ingin menulis tentang games dari era 16-bit. Salah satu yang menarik dari era 16-bit adalah, kita bisa menemukan games yang berbeda dari franchise yang sama untuk consoles yang ada saat itu.

Ada games yang memang dari pengembang dan penerbit yang berbeda. Contohnya Disney’s Aladdin, versi SNES dikembangkan dan diterbitkan Capcom, sedangkan versi Genesis dikembangkan Virgin Games dan diterbitkan Sega.

Namun, ada pula games yang berbeda dari pengembang dan penerbit yang sama. Contohnya Tiny Toon Adventures, versi SNES dan Genesis-nya sama-sama dikembangkan dan diterbitkan Konami.

Lebih menarik lagi, karena ikut memanaskan perang konsol saat itu, jika games yang berbeda dari franchise yang sama itu muncul di dua console yang saat itu bersaing ketat. Dari tadi sudah digunakan sebagai contoh, Nintendo SNES dan Sega Genesis.

Tiny Toon Adventures, meski dikembangkan dan diterbitkan oleh perusahaan yang sama, bukanlah satu game yang di-port ke berbagai console yang ada saat itu. Tiny Toon Adventures: Buster Busts Loose! (SNES) sama sekali berbeda dengan Tiny Toon Adventures: Buster's Hidden Treasure (Genesis).

Meski berbeda, Tiny Toon SNES dan Genesis memiliki beberapa persamaan. Selain, tentu saja, berdasarkan seri kartun yang sama. Tiny Toon SNES dan Genesis sama-sama game side-scrolling adventure, atau platformers, yang bagus. Mungkin kedua game ini tidak masuk dalam daftar games klasik dari era 16-bit yang harus dimainkan, tetapi orang tidak akan menyesal memiliki dan memainkan games Tiny Toon versi SNES dan Genesis.

Sayangnya, meski sama-sama bagus, kedua games ini juga memiliki kekurangan yang sama. Keduanya memiliki level yang sangat sulit, yang membuat kita mati berkali-kali sebelum berhasil melewatinya. Bukan level sulit yang membuat kita merasa tertantang, tetapi level sulit yang membuat kita merasa dicurangi.

Selain memiliki level yang sangat sulit, versi SNES memiliki kekurangannya sendiri. Kekurangan itu adalah, daripada tinggal menginjak musuh dengan tombol ‘loncat’ untuk mengalahkannya, versi SNES memilih untuk memiliki tombol ‘attackdedicated untuk menyerang musuh. Masalahnya, serangan itu berbentuk flip kick yang timing-nya harus tepat untuk mengalahkan musuh. Kekurangan di sisi kontrol ini, tentu saja mempengaruhi gameplay-nya. Cara menyerang musuh yang menyebalkan, mengganggu keasyikan bermain. Sedangkan versi Genesis, seperti kebanyakan game platformers, menggunakan tombol ‘loncat’ untuk menginjak musuh dan mengalahkannya. Karena mengambil jalur konvensional, gameplay versi Genesis menjadi lebih solid.

Tiny Toon Adventures: Buster Busts Loose! (SNES) in game

Dengan kelemahan itu, untuk saya, Tiny Toon versi SNES tetap lebih bagus daripada versi Genesis, terutama karena lebih bisa menangkap source material-nya, yaitu seri kartun Tiny Toon Adventures. Beberapa hal yang membuat versi SNES lebih bisa menangkap source material-nya sebagai berikut.

Pertama, grafik versi SNES lebih dekat dengan kartunnya, dan karenanya bisa menangkap jiwa kartun itu. Di dalam permainan versi SNES, karakter-karakter yang kita mainkan digambar mirip dengan kartunnya. Banyak karakter Tiny Toon yang ditampilkan. Levelnya mengambil dari setting kartunnya. Di dalam versi Genesis, karakter yang kita mainkan juga digambar mirip dengan kartunnya. Namun, karakter Tiny Toon yang ditampilkan lebih sedikit daripada versi SNES. Levelnya tidak mengambil dari kartunnya, melainkan menggunakan original setting.

Masih soal grafik. Cut scene antar-level versi SNES juga lebih dekat dengan kartunnya. Cut scene versi SNES, berisi karakter-karakter Tiny Toon, yang menyampaikan humor-humor seperti dalam kartunnya, dengan setting diambil dari kartunnya juga. Sedangkan cut scene versi Genesis, meski menampilan karakter-karakter Tiny Toon, tetapi tidak menyampaikan humornya, dialog antar-karakter hanya menyampaikan cerita game-nya saja.

Kedua, musik versi SNES lebih dekat mood-nya dengan kartunnya. Versi SNES menggunakan theme song dari seri kartunnya, yang tentu saja mengingatkan kita pada kartun itu, dalam beragam versi, mulai dari original, western, hingga space opera. Sedangkan versi Genesis menggunakan original theme song untuk game-nya.

Tiny Toon Adventures: Buster's Hidden Treasure (Genesis) in game

Ketiga, gameplay versi SNES, seperti memainkan episode-episode kartunnya. Karena level-level versi SNES, secara variatif, mengambil episode-episode kartunnya. Sedangkan gameplay versi Genesis, seperti memainkan game platformers biasa. Karena level-level versi Genesis, memang mengikuti pakem game platformers pada umumnya.

Singkatnya, versi SNES adalah kartun Tiny Toon yang bisa kita mainkan, sedangkan versi Genesis adalah game platformers dengan karakter-karakter Tiny Toon.

Untuk saya, versi SNES adalah game Tiny Toon terbaik dari era 16-bit, dan masih sangat layak untuk dimainkan. Untuk yang ingin bernostalgia, grafik, musik, dan gameplay-nya membuat kita seperti memainkan episode-episode kartun Tiny Toon. Untuk yang belum kenal dengan Tiny Toon, karena dekat dengan kartunnya, game ini bisa untuk berkenalan dan bermain dengan karakter-karakter imut 90-an itu.